Top 5 Entri

Tampilkan postingan dengan label Makanan Pendamping Asi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan Pendamping Asi. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 23, 2011

ATURAN TUNGGU 4 HARI (4 Days Wait Rule)

Ini adalah aturan yang berguna untuk mengetahui apakah anak kita alergi terhadap satu makanan/bahan makanan.
Kayaknya sepele, tapi berguna sekali lho! Terutama bagi bayi yang baru mulai makan makanan padat/MPASI. Susah juga kan kalo anak kita jadi alergian…. Yang susah ya maknya juga...
Selain itu kita jadi tahu, dan bisa langsung menghindari makanan-makanan tersebut.
Aturan itu adalah:
1. Berikan bayi makanan yang SAMA selama 4 hari berturut-turut. Hal ini untuk melihat, apakah ada reaksi alergi dari si anak terhadap makanan.
2. Jangan memperkenalkan lebih dari 1 macam makanan baru dalam satu waktu. Kalau kita mencampur lebih dari 1 makanan dan ternyata terjadi alergi, kita nggak akan tahu makanan mana yang bikin alergi. Gicuu…
Nggak usah mikir apakah bayi akan bosan atau tidak. Kebanyakan bayi baru makan belom ngerti apa yang mereka makan. Asalkan rasanya nggak beda jauh sama yang mereka ‘makan’ sebelumnya… yaitu ASI/Sufor. (itulah sebab makanan bayi pertama kali sebaiknya dibuat encer dengan tambahan ASI/Sufor)
Kedua aturan simple tadi akan sangat membantu, terutama kalau memang ada ‘turunan’ alergi dari orang tua/keluarga.
Reaksi alergi itu sendiri biasanya akan muncul dalam 24 jam setelah makanan masuk.
Oya, akan lebih baik mengenalkan makanan baru di pagi hari atau siang hari.
Kenapa?
Karena, kalau misalnya terjadi reaksi alergi, kita bisa dengan mudah membawa ke dokter. Dan kalaupun parah, akan lebih mudah mencari bantuan di siang hari daripada malam hari kan?
Naah.. bila bayi sudah diperkenalkan pada sebuah bahan makanan dan nggak terjadi reaksi alergi / reaksi pencernaan,mbaru deh boleh dicampur-campur… AMAN!

Ditulis bebas oleh Depezahrial
SUMBER: www.wholesomebabyfood.com
Milis MPASI Rumahan
mpasirumahan@yahoogroups.com

Baca Selengkapnya (Read More)......

Prinsip Pemberian Makanan Pendamping ASI (6)

Sediakan makanan buatan sendiri dengan bahan-bahan lokal. Perhatikan keamanan dan kebersihan dalam menyiapkan, menyimpan dan memberikan makanan.

Keuntungan Membuat Sendiri Makanan Bayi dan Batita
Cara Mempersiapkan Masakan
Cara Memasak
Cara Membuat dan Menyimpan Puree
Alat-alat Memasak Yang Dibutuhkan
Penggunaaan Garam, Gula dan Penyedap
Penggunaan Bumbu dan Rempah
Cara Menyimpan Makanan Bayi
Cara Mencairkan dan Memanaskan Makanan Bayi
Tips Menghindari Bahaya Tersedak Makanan

Penjelasannya silakan klik pada masing-masing topik

Baca Selengkapnya (Read More)......

Tips Menghindari Bahaya Tersedak Makanan

Kenali makanan yang bisa mengakibatkan anak Anda tersedak, biasanya makanan keras, halus, licin, kenyal, dan bulat penuh. Misalnya: anggur, permen, kacang goreng, buah beri, buah ceri, popcorn, sosis, potongan daging (misalnya sate), buah berbiji, buah atau sayuran mentah dan juga selai kacang. Perkenalkan jenis-jenis makanan tersebut sesuai usia yang direkomendasikan. Selalu awasi anak saat makan, untuk menghindari bahaya tersedak saat makan. Jangan makan dan memberikan makanan di dalam mobil atau kendaraan lain yang sedang bergerak. Potong makanan sesuai ukuran dan kemampuan anak. Jika anak sudah memiliki beberapa buah gigi, pastikan makanan yang diberikan lunak dan mudah dikunyah. (WM/DS/PP)



Sumber:
· *Feeding Infants Guide - Nutrition Team @ the USDA - p88
· Fast Tips for Safe Food Prep
· FDA - Consumer Food Safety
· USDA-NAL Food Safety Links - Food Safety Research Information Office
· Safely Preparing Homemade Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/tip27May.htm
· Pureeing & Storing Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/pureestore.htm
· Making Your Own Baby Food, http://www.askdrsears.com/html/3/T032300.asp
· Parents’ Survival Guide to Transitional Feeding, The Institute of Pediatric Nutrition

Baca Selengkapnya (Read More)......

Cara Mencairkan dan Memanaskan Makanan

Untuk mencairkan makanan secara perlahan, tempatkan (porsi) makanan yang akan dikonsumsi anak Anda hari itu dalam kulkas (bukan bagian pembeku). Makanan akan mencair dalam beberapa jam.
Untuk mencairkan makanan secara cepat, gunakan steamer atau pemanas elektrik atau letakkan makanan beku dalam pinggan tahan panas, rendam pinggan dalam wadah berisi air panas atau dalam panci lalu panaskan dengan api kecil.
Apabila harus menghangatkan makanan menggunakan microwave, perhatikan bahwa panasnya merata sehingga terhindar dari hot pockets (panas di sebagian tempat saja). Caranya, panaskan makanan lalu aduk-aduk rata, panaskan lagi sebentar. SebelumTes Jika Anda menggunakan microwave untuk mencairkan atau memanaskan makanan, pastikan Anda mengaduk rata makanan untuk menghindari hot pockets (bagian tertentu panas sementara bagian lain tidak panas). Apapun metode memanaskan dan mencairkan makanan yang Anda gunakan, aduklah makanan dengan rata dan cicipi menggunakan jari Anda agar memastikan makanan tersebut tidak terlalu panas untuk anak Anda. Sebelum mengidangkan makanan, teteskan sedikit makanan pada jari Anda untuk memastikan makanan tidak terlalu panas sehingga tidak membakar lidah dan mulut anak.


Sumber:
· *Feeding Infants Guide - Nutrition Team @ the USDA - p88
· Fast Tips for Safe Food Prep
· FDA - Consumer Food Safety
· USDA-NAL Food Safety Links - Food Safety Research Information Office
· Safely Preparing Homemade Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/tip27May.htm
· Pureeing & Storing Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/pureestore.htm
· Making Your Own Baby Food, http://www.askdrsears.com/html/3/T032300.asp
· Parents’ Survival Guide to Transitional Feeding, The Institute of Pediatric Nutrition

Baca Selengkapnya (Read More)......

Cara Menyimpan Makanan Bayi

Untuk menghemat waktu dan tenaga dalam penyiapan makanan bayi, kita bisa memasak dalam jumlah agak banyak. Cara penyimpanannya: setelah dimasak, dinginkan makanan lalu tuang ke dalam blok es (cetakan es batu) lalu bekukan. Setelah beku, keluarkan dari cetakan, lalu masukkan 2-3 potong (sesuaikan untuk 1 porsi) ke dalam kantong plastik ukuran kecil. Apabila akan disajikan, keluarkan sejumlah sesuai kebutuhan.

· Jangan pernah menyimpan sisa makanan dari piring bayi (misalnya sisa makan siang disimpan dan diberikan lagi malamnya). Selalu ambil porsi sedikit saja sesuai kebutuhan perut bayi kita. Bekas air liur bayi yang menempel di sendok (lalu piring) dapat menjadi asal tumbuh kembangnya bakteri.
· Agar tidak mubazir, ambil makanan dalam porsi sedikit. Jika memerlukan tambahan, ambil makanan dari wadahnya menggunakan sendok yang bersih.
· Jangan pernah meninggalkan makanan yang belum ataupun sudah dimasak di atas meja dengan suhu ruangan lebih dari 1 jam.
· Tempelkan label yang bertuliskan keterangan isi dan tanggal pada kemasan sebelum memasukkannya dalam pembeku. Atur kemasan sedemikian rupa agar yang berada di deretan terdepan/atas adalah kemasan makanan yang paling lama.
· Makanan beku harus berada pada temperatur 0 derajat atau kurang dari 0 derajat.
· Makanan di dalam freezer memiliki waktu penyimpanan yang bervariasi, dari 1 sampai 3 bulan; namun sebaiknya makanan bayi yang sudah dibekukan digunakan dalam waktu maksimal 1 bulan.
· Makanan beku yang sudah dicairkan tidak boleh dibekukan kembali tanpa dimasak terlebih dahulu.
· Makanan yang sudah disiapkan dan dimasak harus disimpan di lemari es maksimal 48 jam, setelah itu harus langsung dimakan atau dibekukan atau dibuang.
· JANGAN PERNAH MEMBEKUKAN MAKANAN DALAM WADAH KACA
Botol bekas makanan bayi tidak dibuat untuk dibekukan di lemari es. Wadah yang tidak secara khusus dibuat untuk pembekuan kemungkinan akan retak dan meninggalkan serpihan2 yang teramat sangat kecil, selain itu juga ada kemungkinan botol tersebut bisa pecah secara tiba-tiba. Walaupun banyak orang tetap menggunakan botol bekas tersebut, kami tidak menyarankan penggunaannya dengan alasan apapun! Lagipula, anda kan membuat sendiri makanan bayi karena anda ingin bayi anda dengan alasan kesehatan dan agar dia mendapatkan nutrisi terbaik; lalu mengapa anda mengambil resiko dengan membekukan makan di dalam botol tersebut? Di pasaran banyak terdapat botol kaca yang memang dibuat untuk disimpan di freezer dan wadah-wadah tersebut sama sekali tidak berbahaya.


Sumber:
· *Feeding Infants Guide - Nutrition Team @ the USDA - p88
· Fast Tips for Safe Food Prep
· FDA - Consumer Food Safety
· USDA-NAL Food Safety Links - Food Safety Research Information Office
· Safely Preparing Homemade Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/tip27May.htm
· Pureeing & Storing Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/pureestore.htm
· Making Your Own Baby Food, http://www.askdrsears.com/html/3/T032300.asp
· Parents’ Survival Guide to Transitional Feeding, The Institute of Pediatric Nutrition

Baca Selengkapnya (Read More)......

Kamis, Desember 22, 2011

Penggunaan Bumbu dan Rempah-Rempah pada MPASI

Mungkin anda sudah sering mendengar, “Jangan tambahkan gula atau garam pada makanan bayi”.
Bagaimana dengan menambahkan bumbu-bumbu yang lain untuk membangkitkan selera makan bayi anda? Dalam topik ini kita akan membahas mengenai penambahan bumbu dapur pada makan bayi buatan anda.
Saat anda membuat makanan sendiri untuk bayi anda, anda melakukannya untuk berbagai alasan yang bersifat pribadi. Salah satu dari alasan yang biasa dikemukakan oleh para orang tua yang membuat makanan sendiri untuk bayi mereka adalah karena mereka dapat mengendalikan apa yang dimakan oleh bayi mereka. “Kendali” ini dimaksudkan agar bayi anda memakan makanan yang sehat dan bergizi tanpa ada tambahan penyedap atau pengawet yang biasanya terdapat di dalam makanan instan. Zat tambahan ini biasanya dimasukkan ke dalam makanan pada berbagai variasi “Makanan Tahap 2”, “Makanan penutup”, “Makanan Tahap 3” dan “Makanan untuk batita”.
Bila anda membaca label yang ada pada makanan-makanan seperti ini, anda mungkin akan bertanya-tanya, “Bila di dalam makanan instan ini terdapat gula dan kayu manis, mengapa saya tidak boleh menambahkan sedikit bumbu tersebut ke dalam makanan buatan saya?” Kami memang tidak menganjurkan penambahan gula atau garam di dalam makanan buatan anda, tapi kami menganjurkan untuk menambahkan bahan-bahan lain untuk menambah rasa pada makanan bayi buatan anda.
Sering kali bila kita memikirkan bumbu penyedap untuk makanan yang kita buat, yang terpikirkan adalah gula dan garam. Para orang tua jarang sekali berpikir untuk menambahkan bumbu dan rempah seperti :
· Kunci
· Lengkuas
· Salam
· Daun Jeruk
· Kunyit
· Ketumbar
· Vanila
· Lada
· Bawang putih
· Bawang merah
· Bawang bombay
· Jahe
· Kayu manis
· Pala
· Adas
· Bumbu asing: Rosemary, oregano, Mint
· Dll

Bumbu rempah seperti tersebut di atas ini bisa ditambahkan pada makanan bayi anda!
Perkenalkanlah bumbu rempah pada bayi anda sehingga pengenalan makanan keluarga seperti yang biasa anda masak tidak perlu harus ditunda sampai bayi anda berusia batita. Sebagian besar dokter spesialis anak akan merekomendasikan penundaan sampai bayi berusia 8 bulan atau lebih sebelum diperkenalkan pada bumbu rempah. Rekomendasi ini lebih bertujuan untuk menghindari terjadinya gangguan pada pencernaan dibandingkan untuk menghindari reaksi alergi. Seperti bila anda memperkenalkan makanan baru yang lain, para orang tua diharapkan dapat menerapkan aturan “tunggu selama 4 hari” saat memperkenalkan bumbu rempah.
Perlu diingat, bumbu-bumbu yang menyengat seperti lada, cabe bubuk dan cabe sebaiknya dihindari dulu sampai anak berusia di atas 1 tahun. Seperti biasa, kami merekomendasikan agar anda mendiskusikan secara menyeluruh dengan dokter spesialis anak anda mengenai pengenalan dan penggunaan bumbu rempah ini.
(WM/DS/PP)

Sumber:
· *Phytochemical Database
· Natural Health @ Suite 101
· Herb Info at wholefoods
· Safely Preparing Homemade Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/tip27May.htm

Baca Selengkapnya (Read More)......

Penggunaan Garam, Gula dan Penyedap pada MPASI

Jangan pernah memberi garam (maupun bumbu penyedap lainnya: kaldu bubuk, gula, dll) pada makanan bayi kita. Pemberian garam (yang mengandum sodium) terlalu dini kepada bayi bisa menyebabkan ginjal mereka rusak. Selain itu, pada saat mereka dewasa, mereka lebih mudah terkena hypertensi (tekanan darah tinggi).
INGAT: Bayi tidak mengenal definisi hambar karena mereka baru belajar mengenai rasa. Kalau kita membiasakan pemberian makanan non-hambar sejak dini, bayi pun akan gampang menolak makanan yang cenderung hambar saat dia dewasa. Perhatikan saja kita sendiri, makan apapun selalu diberi ekstra garam, atau ekstra sambal, atau ekstra gula, atau ekstra kecap dan bahkan ekstra vetsin! (WM/DS/PP)

Sumber:
Safely Preparing Homemade Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/tip27May.htm

Baca Selengkapnya (Read More)......

Peralatan Memasak MPASI Yang Dibutuhkan

BLENDER: Untuk membuat makanan yang semi cair atau puree yang lembek, smoothies, minuman yang mengandung es, sup-supan.
FOOD PROCESSOR: Untuk membuat berbagai jenis makanan semi padat dan padat (puree), memotong, menumbuk, mengiris bahkan membuat adonan bila diperlukan.
STICK MIXER: Membuat puree dalam jumlah sedikit atau makanan sedap sekejap
GRINDER (Penggiling): Untuk membuat puree dalam jumlah sedikit atau makanan sedap sekejap
KOTAK PEMBUAT ES BATU (atau wadah penyimpan di lemari pembeku) : Membekukan makanan
KANTONG PLASTIK : Menyimpan makanan yang sudah dibekukan
SARINGAN : Menyaring air dari makanan yang sudah dimasak
KUKUSAN : Untuk mengukus sayur dan buah-buahan
TUMBUKAN : Untuk menumbuk sayur dan buah-buahan sesuai kebutuhan bayi, dari bentuk yang paling lumat sampai bentuk yang paling kasar SPIDOL TAHAN AIR : Untuk menulis pada label di kantong plastik berisi makanan beku, tanggal dan jenis makanan yang disimpan. (WM/DS/PP)

Sumber: Tools You Need, http://www.wholesomebabyfood.com/tools.htm

Baca Selengkapnya (Read More)......

Jumat, Desember 16, 2011

Cara Membuat dan Menyimpan Puree

BAGAIMANA CARA MEMBUAT PUREE

1. Mulailah dengan memasak sayuran/buah dengan cara mengukus, memanggang, merebus atau menggunakan microwave. Mengukus dapat menjaga kadar nutrisi pada makanan. Memanggang, merebus dan tim memungkinkan untuk pembuatan makanan dalam jumlah besar sekaligus. Microwave bisa digunakan bila anda menggunakan peralatan masak berukuran kecil atau membuat puree dalam jumlah yang sedikit.

2. Angkat sayur/buah tersebut dan masukkan ke dalam alat yang akan digunakan untuk membuat puree.

3. Sisihkan air yang digunakan untuk memasak sayur/buah tadi. Air ini bisa ditambahkankan ke dalam puree. Menambahkan air ini juga bisa membantu menjaga agar kandungan nutrisi yang larut pada proses pemasakan awal dapat tetap digunakan.

4. Nyalakan mesin pembuat puree untuk menghaluskan sayuran/buah.

5. Sambil menghaluskan, tambahkan cairan bekas masak atau air putih. Selain itu, anda juga bisa menggunakan susu formula atau ASI. Penambahan ini selain bisa menambah kandungan nutrisi juga membuat bayi mengecap ada rasa yang sudah dikenalnya.

METODE PENYIMPANAN PUREE

1. Setelah anda mendapatkan puree yang lezat, pindahkan puree tersebut ke dalam wadah es batu untuk penyimpanan di freezer.

2. Isi setiap kotak dengan puree, seperti anda mengisi wadah tersebut dengan air untuk membuat es batu

3. Tutup wadah tersebut dengan plastik (bisa juga digunakan kertas timah, walaupun kami tidak menyarankannya karena serpihan timah tersebut bisa saja jatuh ke dalam makanan.

4. Apabila puree tersebut telah beku, keluarkan wadah es dari freezer dan masukkan kotak-kotak puree tadi ke dalam kantong plastik untuk kemudian kembali dibekukan.

5. Pastikan anda telah memberi label yang menunjukkan tanggal pembuatan dan bahan pembuat puree pada kantong plastik tersebut. Makanan yagn telah dibekukan harus digunakan paling lambat satu bulan setelah dibekukan.

6. Saat memberikan makan pada bayi, anda tinggal mengambil beberapa kotak puree sesuai kebutuhan, cairkan kemudian panaskan kembali. Bila perlu makanan tidak usah dipanaskan melainkan disajikan pada suhu ruangan. Bila anda menggunakan microwave untuk mecairkan/memanaskan, jangan lupa untuk mengaduk makanan agar panas merata.

7. Bila anda tidak ingin menggunakan microwave untuk melelehkan makanan, anda bisa menurunkan makanan dari freezer ke lemari es dan menyimpannya disana sepanjang malam (pastikan makanan tersebut berada dalam wadah tertutup, bukan di mangkok yang terbuka). Anda juga bisa letakkan makanan beku di dalam mangkok kecil dan meletakkan mangkok tersebut di dalam mangkok besar yang berisi air panas. Dengan metode ini makanan beku akan leleh dalam waktu 10-20 menit. (WM/DS/PP)

Sumber:
· Pureeing and Storing Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/pureestore.htm
· Safely Preparing Homemade Baby Food,
http://www.wholesomebabyfood.com/tip27May.htm

Baca Selengkapnya (Read More)......

Cara Memasak

Bila kita berkelana ke dunia masak memasak khususnya makanan bayi, salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah, “Bagaimana sebaiknya saya memasak makanan untuk makanan bayi saya?”
Kami telah menyusun garis besar dari berbagai cara memasak makanan dan bagaimana cara masak yang digunakan dapat mempengaruhi kandungan nutrisi di dalam makanan.

MENGUKUS – Ini adalah salah satu cara memasak yang paling disukai. Dengan cara ini, nutrisi yang hilang dapat diminimalisir. Makanan yang dikukus lebih banyak mengandung vitamin dan mineral dibandingkan yang direbus, sayuran dan buah yang dikukus warnanya lebih terang daripada yang direbus. Sisa air yang ada dapat disimpan dan digunakan untuk campuran puree.

MEREBUS DAN TIM – Kekurangan dari cara ini adalah dapat menyebabkan hilangnya nutrisi (terutama vitamin (B & C) dan mineral yang mudah larut). Kehilangan ini dapat diatasi dengan mengurangi jumlah air yang digunakan untuk memasak. Air sisa rebusan dapat disimpan dan digunakan untuk puree.

MEMANGGANG – Memanggang adalah memasak dengan menggunakan panas yang terdapat di dalam oven. Kelebihannya – bisa memasak dalam jumlah yang banyak. Nutrisi yang hilang sedikit dan makanan bisa dicerna dengan mudah.

MEMASAK DENGAN MICROWAVE – Kekurangannya adalah hanya bisa memasak dalam jumlah sedikit. Rasa dan nilai nutrisi yang ada dalam sayuran sangat baik dibandingkan dengan cara yang lain.

MENGGORENG – Goreng masakan hanya bila diperlukan. Menggoreng dengan sedikit minyak lebih baik daripada menggoreng dengan banyak minyak. Menggoreng dengan minyak yang banyak pada suhu yang tinggi dapat memproduksi zat kimia beracun seperti peroksida, aldehid, keton, hidroperoksida, cyclic monomeres dan lain-lain. Akan lebih baik lagi bila tidak menggunakan minyak bekas pakai.

MEMASAK DENGAN PRESSURE COOKER – Hilangnya nutrisi bisa dikurangi dengan cara ini karena hanya menggunakan sedikit air.

DIBAKAR – Kekurangan metode ini adalah bila makanan dibakar dengan menggunakan arang dan api, maka bisa menimbulkan efek karsiogenik.

Untuk buah dan sayuran – Mengukus adalah metode yang paling disukai, kemudian diurutan kedua adalah merebus dengan sedikit air. Untuk bahan makanan jenis kentang dapat dipanggang selain juga ditim. Anda juga dapat menggunakan microwave untuk memasak bila suka – hanya saja bila masak dengan microwave biasanya kita tidak bisa memasak sekaligus dalam jumlah banyak.

Untuk daging – dipanggang adalah metode yang disukai karena sebagian besar nutrisinya bisa tetap terjaga. Biasanya, puree daging lebih baik dicampur dengan air putih karena kaldu yang berasal dari daging sendiri rasanya terlalu keras untuk bayi. Bila anda merebus daging di dalam air kemudian airnya anda buang, berarti anda juga membuang sebagian nutrisi yang terdapat di dalam daging yang anda rebus tadi. (WM/DS/PP)

Sumber: Cooking Metods, http://www.wholesomebabyfood.com/cooking.htm

Baca Selengkapnya (Read More)......

Cara Mempersiapkan Masakan

Makanan bayi buatan sendiri adalah pilihan yang lebih sehat dibandingkan dengan makanan bayi instan. Anda dapat dengan mudah dan aman menyiapkan sendiri makanan bayi dengan cepat dan tanpa susah payah. Hasil akhirnya adalah berbagai macam rasa dan jenis makanan yang tidak akan anda dapatkan bila anda membeli makanan botolan.

Hal lain yang tidak anda dapatkan bila anda membuat sendiri makanan bayi anda adalah alat pembersih dan pensterilan yang sesuai standar industri. Agar bayi dan batita Anda sehat, maka Anda harus memperhatikan keamanan dan kebersihan proses persiapan, penyimpanan dan pemberian makanan, hal ini disebabkan karena:
· Kuman, baik dalam bentuk jamur, spora dan bakteri, dapat menyebabkan penyakit serius pada anak segala usia, terlebih lagi bayi dan batita, dimana mereka lebih rentan dan beresiko terkena penyakit-penyakit infeksi, termasuk infeksi gastrointestinal dan juga diare. · Kadang kita tidak bisa mengetahui apakah makanan sudah terkontaminasi hanya dengan mengamati bau, rasa atau bentuk makanan.
· Permukaan dapur dan peralatan masak dan makan dapat terkontaminasi kuman yang berasal dari makanan yang disiapkan untuk anggota keluarga lainnya.

Tapi hal ini bukan berarti anda tidak bisa menjaga makanan bayi buatan anda dari bakteri patogen dan hal-hal lain yang tidak Anda inginkan. Di bawah ini ada beberapa hal yang relatif mudah dan cepat yang dapat anda lakukan untuk memastikan keamanan makanan bayi buatan anda.

Mempersiapkan Peralatan:

Pastikan bahwa peralatan yang anda gunakan seperti, panci, kuali, talenan dan blender/food processor telah dibersihkan dengan baik; lebih baik lagi bila menggunakan sabun anti bakteri (menggunakan sabun anti bakteri yang natural adalah pilihan yang terbaik dibandingkan dengan pembersih biasa). Jangan pernah menggunakan talenan yang sama untuk memotong daging dan buah/sayuran. Anda harus memiliki satu talenan khusus untuk memotong daging, dan satu lagi khusus untuk memotong buah/sayuran.

Persiapan Untuk Memasak:

Buah dan sayuran: Jangan pernah lupa untuk membasuh dan mencuci buah dan sayuran yang akan anda gunakan untuk memasak makanan bayi. Meskipun anda tidak akan menggunakan kulitnya, atau bahkan bila yang anda gunakan adalah sayuran organik, anda harus selalu membersihkan bahan-bahan yang akan anda gunakan.

Mengupas kulit, membersihkan mata atau membuang biji sangat penting untuk dilakukan sebelum mulai memasak. Akan tetapi ada beberapa pengecualian dimana anda tidak perlu mengupas kulit, membersihkan mata atau membuang biji; pengecualian ini akan terjadi pada saat yang berbeda tergantung pada umur bayi anda, buah/sayuran yang akan anda masak dan dengan cara apa anda akan memasak bahan-bahan tersebut.

Menggunakan talenan yang terbuat dari kayu lebih aman daripada menggunakan talenan plastik, karena bakteri pada talenan kayu lebih mudah dibersihkan daripada bakteri pada talenan plastik.

Daging: Bila anda menggunakan bahan daging, anda harus selalu mencuci tangan anda atau menggunakan sarung tangan plastik bila mungkin.

Apabila anda selesai menyiapkan daging dan akan menyiapkan bahan makanan yang lain, selalu cuci tangan anda terlebih dahulu sebelum anda memegang bahan lain. Selalu cuci tangan anda setelah anda memegang daging, terutama bila anda baru saja memegang produk unggas – termasuk telur ayam.

Jangan gunakan wajan atau panci yang telah atau akan digunakan untuk memasak buah atau sayuran. Menggunakan talenan yang terbuat dari kayu lebih aman daripada menggunakan talenan plastik, karena bakteri pada talenan kayu lebih mudah dibersihkan daripada bakteri pada talenan plastik.

Cairkan daging di dalam lemari es atau dalam microwave dan jangan pernah meninggalkannya untuk mencair pada suhu ruangan! Jangan pernah berikan daging, ayam, ikan dan telur mentah atau setengah matang pada bayi anda. Dengan kata lain, bayi dan bahkan balita harus menggunakan daging yang sudah matang.

Untuk memastikan kemananan yang terbaik, semua daging contohnya daging unggas, daging merah, termasuk juga daging ikan, harus dimasak sebagai berikut*:
· Masak semua daging dengan suhu minimal 160! Fahrenheit. Periksa temperatur dengan termometer daging.
· Masak daging unggas putih dengan suhu setidaknya 170 ! Fahrenheit dan daging unggas merah dengan suhu setidaknya 180! Fahrenheit untuk kematangannya. Cek temperatur dengan termometer daging.
· Masak daging ikan dengan suhu 160! Fahrenheit . Cek temperatur dengan termometer daging. (WM/DS/PP)

Sumber:
Safely Preparing Homemade Baby Food, http://www.wholesomebabyfood.com/tip27May.htm

Baca Selengkapnya (Read More)......

Prinsip Pemberian Makanan Pendamping ASI (5)

Perhatikan Bahan Makanan Untuk Bayi Anda!

Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya bayi Anda, maka keingintahuannya makin besar untuk mengambil makanan dari piring Anda – dan Anda akan lebih tertantang untuk mengenalkan variasi makanan kepadanya. Namun tidak semua makanan aman bagi anak Anda. Ada yang dapat menimbulkan bahaya tersedak, ada juga yang tidak baik bagi sistem pencernaan anak Anda yang masih berkembang, dan yang lainnya berpotensi sebagai pencetus alergi. (Beberapa keluarga cenderung lebih sensitif terhadap alergi dibandingkan keluarga lainnya. Jika keluarga Anda termasuk salah satunya, simak terus anjuran mengenai berapa lama menunda pemberian jenis makanan tertentu.) Berikut adalah jenis makanan yang dihindari berdasarkan tahapan usia anak.

Makanan yang Dihindari Hingga Usia 6 Bulan
Semua makanan cair maupun padat: American Academy of Pediatrics (AAP), WHO, UNICEF, dan hampir seluruh badan kesehatan serta dokter spesialis anak menganjurkan bahwa Anda memberikan ASI (atau susu formula) ke bayi Anda untuk 6 bulan pertama.

Makanan yang Dihindari Hingga Usia 8 Bulan
Makanan dengan kandungan nitrat yang tinggi: Makanan seperti ini dapat menyebabkan sindrom bayi biru*, sehingga AAP menganjurkan untuk berhati-hati dan menunggu hingga usia 8 bulan atau lebih sebelum Anda memasak sayuran yang memiliki kandungan nitrat yang tinggi. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah sayuran berdaun hijau dan sayuran berumbi. Kandungan nitrat pada sayuran berdaun hijau lebih tinggi dibandingkan sayuran berumbi. Contoh sayuran berdaun hijau adalah bayam, selada, brokoli, kale, kubis, dan sayuran hijau lainnya. Sedangkan sayuran berumbi contohnya adalah bit, wortel, dan buncis; serta daging-dagingan seperti hotdog, ham, bacon, bologna, dan salami.

Kuning Telur: Studi menunjukkan bahwa kuning telur yang dimasak hingga matang bisa diperkenalkan pada pola makan berimbang untuk bayi mulai usia 8 bulan tanpa menimbulkan tanda-tanda alergi dan meningkatnya kolesterol plasma. Namun karena risiko alergi makanan karena memakan putih telur, kebanyakan para pakar menganjurkan untuk tidak memberikan telur utuh ke anak-anak sebelum usia 12 bulan. Jadi Anda dapat memberikan telur rebus matang atau orak-arik telur/omelet selama Anda hanya menggunakan kuning telur (dan tentu saja susu formula, keju, dan mentega). Karena adanya risiko keracunan makanan akibat salmonella, pastikan untuk memasak kuning telur hingga benar-benar matang.

Makanan yang Dihindari Hingga Usia 9 Bulan
Keju dan yogurt: Keju dan yogurt sangat baik dan merupakan makanan dasar untuk pola makan anak yang sehat. AAP menganjurkan untuk mengenalkan yogury pada anak pada usia 9-12 bulan. Meskipun susu sapi sebaiknya dikonsumsi setelah usia 1 tahun sambil tetap mengkonsumsi ASI atau susu formula, yogurt lebih mudah dicerna dan merupakan makanan tambahan yang tepat. (Bayi yang berasal dari keluarga yang memiliki sejarah alergi protein susu, bukan intoleransi laktosa, sebaiknya menunggu hingga berusia 1 tahun). Gandum atau produk gandum: Kebanyakan bayi dapat mengkonsumsi gandum (seral, roti) ketika mereka berusia sekitar 6 hingga 8 bulan, namun gandum adalah pencetus alergi biji-bijian yang paling umum. Jadi jika Anda cemas mengenai kemungkinan alergi ini, sebaiknya memang ditunda hingga bayi Anda berusia 12 bulan.

Makanan yang Dihindari Hingga Usia 12 Bulan
Susu sapi: Tetap berikan ASI atau susu formula hingga bayi Anda berusia 1 tahun. Mengapa? Bayi Anda belum dapat mencerna protein dalam susu sapi sebelum berusia 1 tahun. Selain itu susu sapi tidak mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan bayi dan justru mengandung mineral dalam jumlah yang dapat merusak ginjalnya.

Buah-buahan berasa masam dan berry: Memperkenalkan buah-buahan berasa masam dan berry sebelum usia 12 bulan dapat mencetuskan reaksi alergi, terutama jika ada bakat alergi di keluarga Anda.

Putih telur: Sekarang Anda dapat memberikan kuning telur ke bayi Anda, namun tunggulah hingga ia berusia 1 tahun sebelum memberikan putih telur yang kaya akan protein karena ada kemungkinan bayi Anda alergi terhadapnya. Bahkan jika memang ia berisiko tinggi terkena alergi, sebaiknya ditunda hingga ia berusia 2 tahun.

Madu dan sirup jagung: Kedua jenis makanan ini dapat menjadi tempat berkembangbiaknya spora Clostridium botulinum (botulisme) dan sebaiknya dihindari hingga bayi Anda setidaknya berusia 12 bulan. Saluran usus orang dewasa dapat mencegah tumbuhnya spora bakteri ini, namun pada bayi spora tersebut dapat tumbuh dan menghasilkan zat racun yang membahayakan jiwa.

Ikan: Ikan, terutama yang bertulang, dikenal sebagai pencetus alergi pada bayi. Seringkali dianjurkan untuk memberikan ikan hanya jika bayi berusia 1 tahun. Banyak yang menyarankan untuk menunggu hingga usia 3 tahun. Namun ada juga yang menyatakan bahwa ikan aman dikonsumsi bayi berusia 9-10 bulan. Alasan lain menunda pemberian ikan pada bayi adalah kandungan merkuri yang mungkin terdapat pada ikan. Saat pertama kali mengenalkan ikan, penting untuk memilih tipe ikan berdaging putih. Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter anak Anda sebelum Anda memberikan ikan, terutama kerang-kerangan.

Kerang-kerangan: Yang termasuk kelompok ini adalah lobster, tiram, dll. Jenis ini dapat mencetuskan alergi dan menyebabkan reaksi alergi yang mematikan. Oleh karena itu para pakar menganjurkan untuk menunda pemberian kerang-kerangan hingga bayi Anda berusia 1 tahun. Kerang-kerangan sebaiknya tidak diberikan pada anak yang cenderung alergi hingga berusia 3 tahun atau lebih.

Selai kacang: Kacang merupakan pencetus alergi yang utama. Sebaiknya tunggulah hingga anak Anda berusia lebih dari 1 tahun sebelum Anda mengenalkan selai kacang. Jika Anda atau suami Anda alergi pada kacang, tunggulah hingga anak Anda berusia setidaknya 3 tahun sebelum diperkenalkan pada selai kacang. Kacang dan sejenisnya (seperti pecan dan walnut): Jika sepertinya bayi Anda berisiko terkena alergi, sebaiknya tunggulah hingga ia berusia 3 atay 4 tahun sebelum memberinya kacang; jika tidak ia dapat mulai mengkonsumsinya ketika ia berusia 12 bulan, selama diberikan dalam bentuk pure atau selai kacang. (Potongan kacang dapat menimbulkan risiko tersedak.) Pengenalan kacang dan sejenisnya berdasarkan usia bervariasi. Umumnya usia pengenalannya adalah:
· Setelah 1 tahun untuk anak yang tidak sensitif/alergi terhadap makanan;
· Setelah 2 tahun untuk anak yang sensitif/alergi terhadap makanan.

Jagung: Banyak yang mengatakan bahwa jagung sebaiknya diberikan setelah usia 12 bulan. Salah satu
alasannya adalah jagung berpotensi mencetuskan alergi. Alasan lainnya adalah jagung dapat menyebabkan
bahaya tersedak. Memperkenalkan jagung setelah usia 12 bulan sebagai makanan cemilan lebih tepat
dilakukan karena pada usia tersebut bayi seharusnya sudah dapat mengunyah pipilan jagung dengan benar.
Pada tahun pertama kehidupannya, penting bagi bayi untuk memperoleh semua zat gizi yang diperlukan.
Sebenarnya jagung hanya memiliki kandungan gizi sedikit. Sebagian besar massanya terdiri dari ampas dan
diangap sebagai makanan tanpa kalori. Sebaiknya memang menunggu pemberian jagung karena sebenarnya
jagung sulit dicerna dan cenderung akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama saat dimakan.
Kedelai: Kandungan proteinnya yang tinggi membuat kedelai dapat mencetuskan alergi pada bayi. Banyak
bayi yang alergi susu juga akan bereaksi yang sama pada kedelai. Oleh karena itu penggunaan susu kedelai
untuk bayi yang alergi susu tidak dianjurkan. Satu-satunya cara untuk mencegah gejala yang berkaitan
dengan alergi pada kedelai adalah menghindari makanan yang bahan bakunya dari kedelai.
Makanan yang Dihindari Hingga Usia 24 Bulan
Coklat: Alergi coklat yang sebenarnya jarang ditemukan, dalam hal ini orang alergi pada bijih coklat.
Kebanyakan reaksi alergi terhadap coklat disebabkan intoleransi atau alergi pada satu atau lebih bahan atau
zat penambah pada coklat. Ini termasuk kedelai, lesitin, susu, sirup jagung, gluten, kacang, zat pemberi rasa
dan warna, yang juga merupakan pencetus alergi. Jika bukan bahan tersebut, kotoran tikus atau serangga
lainnya kadangkala ditemukan dalam coklat. Hindari pemberian coklat hingga anak Anda berusia 24 bulan.
Susu rendah lemak: Anak Anda masih membutuhkan kandungan lemak dan kalori yang tinggi dari susu
untuk pertumbuhan dan perkembangan. Begitu ia berusia 24 bulan (dan tak memiliki masalah
perkembangan), Anda dapat mulai memberikan anak Anda susu dan hasil produksinya yang berlemak rendah.
Makanan yang menjadi pencetus alergi bagi orangtua si anak: Sebaiknya tundalah pengenalan
makanan yang menjadi pencetus alergi bagi Anda dan suami/istri Anda. Jika Anda menyusui, hindarilah
memakan semua jenis kacang-kacangan dan mungkin telur serta susu agar dapat membantu menunda atau
mencegah alergi pada bayi Anda.
Bahaya tersedak: Daftar makanan berikut ini berbahaya karena bayi Anda belum memiliki gigi dan belum
menguasai sepenuhnya pergerakan mulut/lidah; memberikan makanan jenis ini terlalu awal dapat berisiko
tercekik. Dianjurkan untuk memberikan makanan di bawah ini hingga anak Anda berusia 2 atau 3 tahun.
· Hot dog: Saat Anda memberikan daging pada bayi Anda, ingatlah bahwa ia dapat dengan mudah
tersedak akibat potongan hotdog kecuali jika Anda memotongnya seukuran kecil. (Jika Anda
memberikan hot dog, cobalah yang untuk vegetarian sebagai alternatif makanan yang lebih sehat.)
· Potongan besar buah, sayur (matang atau mentah), atau daging: Yang teraman adalah yang
seukuran biji kapri.
· Buah-buahan dan sayuran keras dan mentah seperti wortel: Kebanyakan buah-buahan dan
sayuran sebaiknya dipotong-potong atau dimasak dalam ukuran kecil hingga bayi Anda berusia 12
bulan. Dengan demikian makanan tersebut tidak tersangkut di tenggorokan anak Anda. Hal yang sama
juga perlu dilakukan untuk celery dan buncis. Saat bayi Anda berusia 12 bulan, ia dapat mulai
memakan buah dan sayuran yang dipotong/dijus.
· Keju bongkahan: Potonglah keju hingga berbentuk sangat kecil atau serpihan
· Anggur utuh: Potonglah anggur, tomat ceri, dan melon dalam potongan kecil sebelum diberikan.
Buah yang utuh dapat tersangkut di tenggorokan anak Anda.
· Makanan yang kecil dan keras: Permen keras seperti gulali, kacang-kacangan (selain yang
ditumbuk halus), brondong jagung, permen loli, kismis dan buah-buahan kering lainnya, biji-bijian,
dan permen karet berpotensi menimbulkan bahaya tersedak.

Sumber:
· Alergi Makanan dan Anak, http://www.wholesomebabyfood.com/allergy.htm
· Makanan Pertama, http://www.kellymom.com/nutrition/solids/first-foods.html
· Makanan yang Perlu Diwaspadai, http://www.babycenter.com/refcap/baby/babyfeeding/9195.html
· Alergi Makanan pada Bayi,
http://www.yourbabytoday.com/babyplace/newbaby/newbaby_pediatrics/ped_food_allergies.html
· The Benefits of Yogurt for Infants and Toddlers:the Skinny and the Fat
oleh Vicki Koenig, MS, RD, CDN, http://www.stonyfield.com/Wellness/MooslettersDisplay.cfm?moos_id=44
· Jagung, http://www.wholesomebabyfood.com/tipcorn.htm
· Nitrat dan Makanan untuk Bayi, http://www.wholesomebabyfood.com/nitratearticle.htm
· Alergi telur dan makanan,
http://www.aecl.org/repositories/files/eggs%20and%20food%20allergies.pdf#search='infantseggs'
· Alergi kedelai, http://allergy.healthcentersonline.com/foodallergyintolerance/soyallergy.cfm
· Alergi coklat, http://allergy.healthcentersonline.com/foodallergyintolerance/chocolateallergies.cfm
· Alergi Telur http://allergy.healthcentersonline.com/foodallergyintolerance/eggallergies.cfm
· Sindroma bayi biru, http://www.ecifm.rdg.ac.uk/bluebabs.htm

Baca Selengkapnya (Read More)......

Kamis, Maret 25, 2010

Susu Sapi Pada Dasarnya Memang Untuk Anak Sapi

NUTRISI yang terdapat dalam susu cocok untuk anak sapi yang tengah berkembang. Yang penting bagi pertumbuhan anak sapi belum tentu berguna bagi manusia. Terlebih lagi, dalam dunia alami, hewan yang minum susu hanyalah bayi yang baru lahir. Tidak ada mamalia yang minum susu setelah dewasa (kecuali Homo sapiens). Inilah cara kerja alam. Hanya manusia yang dengan sengaja memngambil susu dari spesies lain, mengoksidasi, dan meminumnya. Ini bertentangan dengan hukum alam.




Di Jepang dan Amerika Serikat, anak-anak didorong untuk minum susu saat makan siang di sekolah karena susu yang kaya nutrisi dianggap baik untuk anak-anak yang tengah tumbuh. Namun, siapa pun yang menganggap bahwa susu sapi dan air susu ibu manusia adalah sama, tentunya sangat salah. Jika Anda mendata berbagai nutrisi yang ditemukan baik dalam susu sapi maupun ASI, keduanya memang sangat serupa. Nutrisi seperti protein, lemak, laktosa, zat besi, kalsium, fosfor, natrium, kalium, dan vitamin, ditemukan dalam keduanya. Namun, kualitas dan jumlah nutrisi ini sangat berbeda.

Komponen utama yang ditemukan dalam susu sapi disebut KASEIN. Saya pernah menyinggung fakta bahwa protein ini sangat sulit dicerna dalam sistem pencernaan manusia. Sebagai tambahan, susu sapi juga mengandung bahan antioksidan LAKTOFERIN, yang memperkuat fungsi kekebalan tubuh. Namun, laktoferin yang terdapat dalam ASI adalah 0,15 % sementara yang terdapat dalam susu sapi hanya 0,01 %.

Tampaknya, bayi-bayi yang baru lahir dari spesies yang berbeda membutuhkan jumlah dan rasio nutrisi yang berbeda pula.

Dan bagaimana dengan orang dewasa?

LAKTOFERIN menjadi contohnya. Laktoferin dalam susu sapi terurai dalam asam lambung. Bahkan jika Anda meminum susu segar yang belum diproses menggunakan suhu tinggi, laktoferin di dalamnya akan terurai dalam lambung. Begitu pula halnya dengan laktoferin yang terdapat dalam ASI. Seorang bayi manusia yang baru lahir dapat menyerap laktoferin dari ASI dengan baik karena lambungnya masih belum berkembang sempurna, dan karena sekresi asam lambungnya hanya sedikit, laktoferin pun tidak terurai. Dengan kata lain, ASI manusia memang tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi oleh manusia dewasa.

Susu sapi, walaupun sebagai susu segar yang masih mentah, bukanlah makanan yang cocok bagi manusia. Kita mengubah susu segar, yang pada dasarnya memang tidak baik bagi kita, menjadi makanan buruk dengan cara homogenisasi dan pasteurisasi pada suhu tinggi. Kemudian, kita memaksa anak-anak kita untuk meminumnya.

Satu masalah lain adalah orang-orang dari kebanyakan kelompok etnis tidak memiliki cukup banyak ENZIM LAKTASE untuk menguraikan laktosa. Kebanyakan orang memiliki cukup banyak enzim ini pada saat masih bayi, tetapi kemudian berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Pada saat orang-orang ini minum susu, mereka mengalami berbagai gejala seperti perut bergemuruh atau diare, yang merupakan hasil ketidakmampuan tubuh mereka mencerna laktosa. Orang-orang yang benar-benar tidak memiliki laktase atau jumlah enzimnya benar-benar rendah disebut tidak tahan laktosa (WH: lactose intolerance). Hanya sedikit orang yang benar-benar tidak tahan laktosa, tetapi sekitar 90 % dari bangsa Asia; 75 % dari bangsa Hispanik, Indian, Amerika, dan kulit hitam Amerika; begitu pula 60 % orang dari berbagai kebudayaan di Mediterania dan 15 % masyarakat keturunan Eropa utara tidak memiliki cukup banyak enzim ini.

LAKTOSA adalah zat gula yang hanya terdapat dalam susu mamalia. Susu hanya diminum oleh bayi-bayi yang baru lahir. Walaupun banyak orang dewasa yang kekurangan laktase, pada saat baru dilahirkan, semua bayi yang sehat memiliki cukup banyak enzim tersebut untuk kebutuhan mereka. Terlebih lagi, kadar laktosa dalam ASI adalah sekitar 7 %, sementara dalam susu sapi hanya 4,5 %.

Oleh karena manusia pada saat bayi mampu minum ASI yang kaya akan laktosa tetapi berakhir dengan menghilangnya enzim tersebut setelah dewasa, saya yakin inilah cara alam untuk mengatakan bahwa susu bukan untuk diminum oleh manusia dewasa.

Jika memang sangat menyukai rasa susu, saya sangat menyarankan Anda membatasi seringnya mengonsumsi susu, berusaha untuk minum susu yang tidak dihomogenasi, dan dipasteurisasi pada suhu rendah. Anak-anak dan orang dewasa yang tidak menyukai susu tidak boleh dipaksa untuk meminumnya.

Singkatnya, minum susu tidak bermanfaat baik bagi tubuh. ***

Dikutip sesuai aslinya dari buku "THE MIRACLE OF ENZYME: Self-Healing Program - Meningkatkan Daya Tahan Tubuh - Memicu Regenerasi Sel" oleh Hiromi Shinya, M.D. (terjemahan), hal. 131-134, diterbitkan oleh Qanita/Mizan.

Baca Selengkapnya (Read More)......

Tips Pemberian Makanan Untuk Si Batita

Moms, anaknya udah 1 taon/lebih ya? Wah, udah bukan bayi lg donk, skrg udah jadi batita. Bahagia ya liat dia semakin besar... Semakin berakal, semakin banyak gaya & semakin susah makan??? Oh no! Klo yg satu itu jangan sampe deh... Sebenernya kenapa seh batita jadi susah makan? Gimana tipsnya biar dia tetap nafsu makan? Check this out!



1. Berikan makanan 5-6 kali sehari. Pada masa ini lambung anak belum mampu mengakomodasi porsi makan 3 kali sehari. Mereka perlu makan lebih sering, sekitar 5-6 kali sehari (3 kali makan “berat” ditambah cemilan sehat).

2. Berikan porsi kecil. Batita dikenal sebagai anak yang mempunyai nafsu makan yang naik-turun. Kadang doyan makan, kadang hanya makan sedikit, namun tetap bisa tumbuh dengan sehat. Tanggung jawab Anda sebagai orang tua adalah memberikan makanan bernutrisi sesuai jadwal pemberian makan dan cemilannya, dalam suasana yang menyenangkan. Selebihnya, terserah batita Anda untuk memutuskan apa dan berapa banyak yang dimakannya. Berikanlah makanan dalam porsi kecil – batita Anda akan memberikan sinyal jika ia ingin nambah.

3. Jangan berikan susu dan jus sampai berlebihan. Minuman bisa mempengaruhi napsu makan batita. Agar batita tumbuh dengan baik, ia membutuhkan 2-3 cangkir susu (atau 2-3 porsi susu dan produk susu olahan) per hari. Apabila batita Anda minum lebih dari 2-3 cangkir sehari, maka batita Anda akan terlalu kenyang untuk mengonsumsi makanan yang mengandung nutrisi penting, seperti zat besi dan vitamin. Untuk menghindarinya, berikan susu setelah batita makan. Demikian halnya dengan jus, batasi pemberian jus menjadi maksimal 120 ml per hari, terlalu banyak jus akan membuat anak Anda kehilangan napsu makan dan atau diare. Biarkan anak mengeksplorasi makanan dan memutuskan makanan yang mereka inginkan.

4. Tumbuhkan keterampilan makan. Saat batita mulai mengetahui cara makan sendiri, mereka biasanya menjadi terlalu bersemangat ingin makan tanpa bantuan. Walaupun mereka mungkin mengalami kesulitan untuk mengambil makanan yang licin atau menyendoki makanan tertentu, mereka akan cenderung menolak untuk dibantu. Anda bisa memastikan bahwa batita Anda mendapatkan makanan yang cukup dengan menyediakan makanan yang lunak dan mudah dikunyah, yang dipotong kecil seukuran satu suap anak, serta memasak makanan yang lengket di sendok, seperti havermut atau kentang yang dihaluskan, untuk melatih kemampuan batita menggunakan sendok.

Sebagian besar batita dapat beralih dari botol ke cangkir di usia 14 bulan, walaupun masih membutuhkan bantuan. Biarkan batita berlatih dengan sedikit air dalam sippy cup/training cup nya, lama-kelamaan batita Anda akan mahir menggunakan cangkir tanpa bantuan.

Jadi jangan biasakan anak untuk selalu disuapi oleh orang tua atau pengasuhnya, biarkan anak Anda mengeksplorasi keterampilan makan tanpa bantuan.

5. Kurangi makanan/minuman lemak secara bertahap. Walaupun batita membutuhkan kalori lebih sedikit dari masa bayinya, jangan batasi kadar lemak dalam makananya sampai ia berusia 2 tahun. Setelah anak menginjak usia 2 tahun, baru Anda bisa secara bertahap menguragi kadar lemak di makanannya, dan meningkatkan asupan sereal, sayuran dan buah-buahan. Mulailah dengan memilih susu atau produk susu olahan yang rendah lemak (low-fat) serta menghindari/mengurangi cemilan yang kayak lemak (spt kentang goreng, coklat, dll).

6. Berikan makanan kaya zat besi. Kekurangan zat besi atau anemia seringkali ditemukan pada anak batita. Anemia berdampak negative pada kesehatan anak juga pada kemampuannya untuk belajar. Untuk pencegahan, berikan batita Anda makanan kaya zat besi seperti daging, unggas, ikan, dan sereal yang diperkaya zat besi.

7. Jadikan waktu makan sebagai saat yang menyenangkan. Membuat waktu makan sebagai saat yang menyenangkan memang susah, terlebih lagi jika orang tua khawatir anaknya tidak cukup makan. Akibatnya, sebagian orang tua akan memaksa anak untuk makan, dan anak akan belajar bahwa ia bisa memegang kendali dengan menolak makanan.

Situasi ini dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal:

· Jangan paksa batita untuk makan. Satu hal yang jangan Anda lakukan adalah memaksa batita Anda untuk makan. Memaksa atau mencekoki makanan pada batita yang tidak lapar seringkali malah berakibat anak semakin menolak makanan. Batita mempunyai naluri alami untuk menginginkan kendali tentang apa dan berapa banyak makanan yang masuk dalam mulutnya. Banyak batita yang melakukan aksi tutup mulut hanya untuk menunjukkan bahwa mereka yang mempunyai kendali.

· Pastikan batita didudukkan dengan nyaman saat makan (gunakan kursi tinggi) dan makan di ruang makan.

· Kurangi kegiatan serta sumber suara atau visual yang bisa mengganggu perhatiannya (seperti makan sambil bermain, menonton TV, dan lainnya).

· Bantu batita Anda untuk menikmati saat makannya. Senyumlah atau berbicaralah saat batita Anda makan, makan bersama, dan Anda menunjukkan ekspresi bahwa Anda sangat menikmati makanan tersebut. Biarkan batita Anda mencoba sedikit makanan Anda. Satu hal lagi, jangan memaksa dan “menipu” batita Anda agar anak Anda makan. Misalnya: “nanti mama pergi loh kalo ade ga makan”, “eh makan satu suap ini aja”, atau “ini suapan yang terakhir kok” (padahal masih banyak). Orang tua dapat menjelaskan makan yang dimakan batita atau berbicara hal-hal lain selama waktu makan, hindari kalimat-kalimat negatif, seperti, “Kamu nakal banget sih nggak mau makan”, “Mama nggak suka kalau kamu nggak makan sayuran”. Sebisa mungkin, orang tua menyempatkan diri untuk makan bersama dengan batita supaya mereka bisa mencontohkan cara makan dan mengenalkan anak dengan makanan baru.

8. Jadikan waktu makan sebagai kesempatan untuk belajar.

· Belajar kebiasaan makan yang baik
Orang tua dapat membuat waktu makan sebagai proses pembelajaran bagi batita dan sebagai waktu yang menyenangkan bagi semua anggota keluarga, dengan menetapkan sejumlah aturan:
1. Tetapkan jam makan yang sama setiap harinya, baik makan pagi, makan siang dan makan malam
2. Makan di ruang makan, bukan di ruang duduk keluarga atau di depan TV atau sambil berjalan-jalan di taman.
3. Dudukkan batita duduk di kursi makannya atau dipangkuan (bukan digendongan atau sambil berjalan/bermain/berlarian/di baby walker).
4. Matikan TV atau pastikan bahwa setiap anggota keluarga menghabiskan cukup waktu di meja makan hanya untuk makan, bukan sambil menonton TV, membaca koran/majalah, ber-SMS atau berbicara lewat handphone/telpon, atau makan terburu-buru.
5. Ciptakan suasana yang tenang, bersahabat, bukan untuk berargumen, memarahi anak dan hal-hal lain yang bisa membuat kesan bahwa waktu makan adalah hal yang menegangkan. Suasana yang tegang di meja makan membuat anak menganggap waktu makan sebagai beban, bukan saat menyenangkan dengan keluarga.

· Belajar ketrampilan makanan
Makan bersama keluarga memberikan kesempatan bagi batita untuk belajar makan dengan mengobservasi anggota keluarga lain. Mereka belajar cara menggunakan peralatan makan dan bagaimana cara memakan makanan tertentu (seperti sate, jagung, dan lain sebagainya). Mereka melihat ada makanan yang dicocolkan dengan sambal/saus, ada yang diolesi, ada yang dimakan dengan tangan, dan lainnya. Melihat orang tua dan saudara-saudaranya minum dengan gelas membuatnya tertarik untuk mencoba.
Batita juga pandai belajar sejumlah keterampilan sosial yang penting. Mereka mulai mengerti konsep bahwa makanan dimakan sambil duduk (bukan berlarian atau digendongan), meminta makanan atau susu tambahan sambil berkata “tolong” dan “terima kasih”. Secara umum, mereka belajar menggunakan suara yang lembut dan menyenangkan saat makan, mengamati bagaimana anggota keluarga mendengarkan dengan sopan dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Mereka juga belajar bahwa melempar-lempar makanan tidak baik, dan tidak ada anggota keluarga lain yang memuntahkan makanannya ke atas meja/piring.

· Belajar mengenai makanan
Acara makan bersama juga dapat mengajarkan batita mengenai makanan. Mereka mungkin akan hanya makan jenis makanan tertentu untuk sementara waktu, namun mereka akan mengamati makanan menarik lain (yang ada di meja) dan mungkin ingin bereksperiman dengan mencoba-coba makanan yang dikonsumsi orang tua dan saudara-saudaranya. Membantu persiapan makanan juga bisa membuat batita lebih semangat untuk mencoba berbagai jenis makanan, jadi, jika memungkinkan, berikan tugas-tugas yang mudah seperti menaburkan seledri, menuangkan air, meletakkan hiasan makanan, dan lain sebagainya.
Di usia muda, anak lebih suka memakan makanan yang dimakan orang tuanya. Saat usia mereka bertambah, mereka ingin makan apa yang dimakan teman-temannya (dan yang ada di iklan TV). Oleh karena itu, orang tua bisa memberikan model atau contoh bagi anak dengan memilih makanan yang sehat.

Dirangkum oleh: Dian Safitri
Sumber:
· Your 24-month-old's physical development: Moving every which way, Dana Sullivan
· Feeding Development: An Overview, Robert Needlman, M.D.m F.A.A.P.
· Family Meals: A Time For Toddlers, Maria Silva, M.S, R.D.
· Nourishing Your Toddler, Maria Silva, M.S, R.D.
· Bayiku Anakku, dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPed

Baca Selengkapnya (Read More)......

Sayuran Tersembunyi Dalam Makanan Si Kecil

Sulit makan sayur seringkali menjadi problem sebagian besar anak-
anak. Namun Anda tak perlu kehilangan akal. Mengingat sumbangan
nutrisi dan seratnya sangat vital, sayur seyogianya tetap Anda
berikan. Caranya, "sembunyikan" sayuran dalam makanan favorit anak-
anak.



SAYURAN merupakan sumber nutrisi penting bagi anak-anak, terutama kandungan betakaroten, mineral, dan juga serat. Sebenarnya tak ada alasan untuk tidak memberikannya, meskipun anak-anak menolaknya.

Ada banyak cara mudah menghidangkan sayuran pada anak-anak:

1. Untuk anak-anak yang sulit makan sayur, samarkan sayuran dengan cara dihaluskan. Campurkan ke dalam makanan favoritnya, misalnya nugget, perkedel, mi, nasi, puding, kue-kue, atau es krim.

2. Bila anak Anda tidak menolak sayuran yang tampak secara fisik, lebih mudah bagi Anda untuk menyiapkan hidangan sayuran yang menggugah selera. Potong sayuran dengan bentuk-bentuk mainan kegemarannya. Gunakan cookies cutter berbentuk lucu untuk memotongnya. Selalu masak sayuran hingga masak dan empuk. Umumnya anak menolak makan sayur bukan karena ia tidak suka, tetapi karena ia harus mengunyah terlalu lama.

3. Sebaiknya sajikan sayuran ketika masih hangat, karena makanan hangat lebih menggugah selera makan anak.

Oleh Wied Harry Apriadji
Dikutip sebagian dari Majalah NIRMALA November 2008

Sumber: Milis Gizi_BayiBalita

Baca Selengkapnya (Read More)......

Jumat, Maret 19, 2010

Saran Pengenalan Makanan Sesuai Usia Anak

Selamat ya, buat bunda yg udah lulus ngasih ASI eksklusif buat baby nya... Sebagai panduan jenis makanan apa saja yg boleh dikasih ke baby dari usia 0 sampai 4 tahun ke atas, akan saya sharing di postingan ini.


0-6 Bulan
ASI/ASI perah

6 bulan
Sereal/Gandum:
Beras Putih, Beras Merah, Havermut
Sayuran:
Ubi kuning, Labu parang, Labu kuning
Buah:
Pisang, Pear, Apel, Alpukat, Pepaya
Daging & Protein: -
Susu & Produk Susu: -
Kacang-kacangan/bumbu, dll:
kacang hijau

7 bulan
Sereal/Gandum:
Beras Putih, Beras Merah, Havermut
Sayuran:
Kentang, Ketimun
Buah:
Timun suri, Blewah
Daging & Protein:
Tahu, Tempe, Daging Ayam, Ati Ayam
Susu & Produk Susu: -

8-9 bulan
Sereal/Gandum:
Gandum, Crackers, Roti gandum, Teething biscuits, Pasta /mi /macaroni yg tdk mengandung telur
Sayuran:
Bit, Lobak, Wortel, Sawi Hijau, Bayam, Brokoli, Kembang kol, Kol, Asparagus, Kacang kedelai
Buah:
Mangga, Peach, Aprikot
Daging & Protein:
Daging sapi, Kalkun, Kuning telur
Susu & Produk Susu:
Keju cheddar, Yogurt bayi
Kacang-kacangan/bumbu, dll:
Rempah-rempah alam menyengat

10-12 bulan
Sereal/Gandum:
Pasta (mie, macaroni) yg tdk mengandung telur
Sayuran:
Buncis, Kacang panjang, Kacang kapri, Kacang kedelai, Jus sayuran
Buah:
Nanas, Kiwi, Melon
Daging & Protein:
Kuning Telur

12-24 bulan
Sereal/Gandum: Semua
Sayuran:
Jagung, Tomat, Seledri, Daun slada, Bawang Bombay, Sayuran yang dimakan tanpa dimasak
Buah:
Buah sitrus: jeruk, lemon, jeruk bali, jeruk limo, dll
Buah berri: strawberry, raspberry, dll
Kurma, Cherry, Anggur (dipotong empat), Buah yang dimakan tanpa dimasak
Daging & Protein:
Daging babi, Ham, Ikan, Putih Telur, Telur utuh
Susu & Produk Susu:
Susu sapi segar, Susu UHT, Yogurt plain, Susu bubuk biasa (non formula), Ice cream, Cottage cheese
Kacang-kacangan/bumbu, dll:
Madu, Selai kacang, Rempah-rempah lain

2 – 3 thn
Sereal/Gandum: Semua
Sayuran: Semua
Buah: Semua
Daging & Protein:
Kerang-kerangan
Susu & Produk Susu:
Susu dan produk susu rendah lemak.
Kacang-kacangan/bumbu, dll:
Kacang tanah, Coklat, Biji-bijian, Garam, Gula

4 thn +
Sereal/Gandum: Semua
Sayuran: Semua
Buah:
Anggur, ceri, berry utuh, Kismis
Daging & Protein:
Satai
Kacang-kacangan/bumbu, dll:
Keripik/chips, Kacang (utuh), Permen, Permen karet, Pop corn, Hotdog/ sosis

Sumber:Introducing solid foods: What you need to know, http://www.mayoclinic.com/invoke.cfm?id=PR00029
Parents’ Survival Guide to Transitional Feeding, The Institute of Pediatric Nutrition
Bayiku Anakku, dr Purnamawa

Baca Selengkapnya (Read More)......

Prinsip Pemberian Makanan Pendamping ASI (4)

Tingkatkan tekstur, frekuensi dan porsi makanan secara bertahap

Seiring dengan pertumbuhan anak antara 6 sampai 24 bulan, maka sesuaikan tekstur, frekuensi dan porsi makanan sesuai usia anak. Jangan lupa untuk melanjutkan pemberian ASI sampai usia 2 tahun atau lebih dengan frekuensi sesuka bayi. Kebutuhan energi dari makanan hádala sekitar 200 kcal/hari untuk bayi usia 6-8 bulan, 300 kcal/hari untuk bayi usia 9-11 bulans, dan 550 kcal/hari untuk anak usia 12-23 bulan.



6 – 8 bulan
Jenis:
1 jenis bahan dasar (6 bulan)
2 jenis bahan dasar (7 bulan)
Tekstur:
Semi-cair (dihaluskan atau puree), secara bertahap kurangi campuran air sehingga menjadi semi-padat.
Frekuensi:
Makan Utama: 1-2x/hari
Camilan: 1 x/hari
Porsi: 1-2 sdt, secara bertahap ditambahkan.
ASI: Sesuka bayi

8 – 9 bulan
Jenis:
2-3 jenis bahan dasar (sajikan secara terpisah atau dicampur)
Tekstur:
Lunak (disaring) dan potongan makanan yg dpt digenggam dan mudah larut.
Frekuensi:
Makan Utama: 2-3x/hari
Camilan: 1x/hari
Porsi:
2-3 sdm makanan semi padat.
Potongan makanan seukuran sekali gigit.
ASI: Sesuka bayi
Susu & produk susu olahan:
Belum boleh susu sapi
½ slice keju cheddar
¼ cangkir yogurt utk bayi

9-12 bulan
Jenis:
3-4 jenis bahan dasar (sajikan secara terpisah atau dicampur)
Tekstur:
Kasar (dicincang) Makanan yang dipotong & dpt digenggam.
Frekuensi:
Makan Utama: 3x/hari
Camilan: 2x/hari
Porsi:
3-4 sdm makanan semi padat yang kasar.
Potongan makanan ukuran kecil/sekali gigit.
ASI: Sesuka bayi
Susu & produk susu olahan:
Belum boleh susu sapi
½ slice keju cheddar
¼ cangkir yogurt utk bayi

12 –24 bulan
Jenis:
Makanan Keluarga (tanpa garam, gula, penyedap, hindari santan dan gorengan)
Tekstur: Padat
Frekuensi:
Makan Utama: 3-4x/hari
Camilan: 2x/hari
Porsi: 5 sdm makanan atau lebih.
ASI: Sesuka bayi
Susu & produk susu olahan:
1-2 porsi susu sapi atau produk susu olahan

Makanan pertama sebaiknya adalah golongan beras dan sereal karena berdaya alergi rendah. Beras dan sereal disangrai dan dihaluskan menjadi tepung, tim dengan air secukupnya sampai matang, kemudian campurkan dengan ASI atau air matang untuk membentuk tekstur semi cair.

Secara berangsur-angsur perkenalkan sayuran yang dikukus dan dihaluskan dan kemudian buah yang dihaluskan, kecuali pisang dan alpukat matang, jangan berikan buah/sayuran mentah.

Setelah bayi dapat mentolerir beras/sereal, sayur dan buah dengan baik, berikan sumber protein (tahu, tempe, dg ayam, ati ayam & dg sapi) yang dikukus dan dihaluskan.

Setelah bayi mampu mengkoordinasikan lidahnya degan lebih baik, secara bertahap bubur dibuat lebih kental (kurangi campuran air), kemudian menjadi lebih kasar (disaring kemudian cincang halus), lalu menjadi kasar (cincang kasar) dan akhirnya bayi siap menerima makanan padat yang dikonsumsi keluarga.

Sejumlah jenis makanan harus ditunda pemberiannya karena merupakan pencetus alergi, sedangkan sejumlah jenis lainnya harus ditunda pemberiannya karena mempunyai kandungan dan bentuk yang berbahaya bagi anak di usia tertentu.

Sumber: Introducing solid foods: What you need to know, http://www.mayoclinic.com/invoke.cfm?id=PR00029
Parents’ Survival Guide to Transitional Feeding, The Institute of Pediatric Nutrition
Bayiku Anakku, dr Purnamawati S. Pujiarto Sp.Ak, M.Ped.

Baca Selengkapnya (Read More)......

Sabtu, Februari 20, 2010

Proses UHT: Upaya Penyelamatan Gizi Pada Susu

Susu merupakan sumber gizi terbaik bagi mamalia yang baru dilahirkan. Susu disebut sebagai makanan yang hampir sempurna karena kandungan zat gizinya yang lengkap. Selain air, susu mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral, enzim-enzim, gas serta vitamin A, C dan D dalam jumlah memadai. Manfaat susu merupakan hasil dari interaksi molekul-molukel yang terkandung di dalamnya.



Susu segar merupakan cairan yang berasal dari kambing sapi sehat dan bersih yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar yang kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun (SNI 01-3141-1998). Dalam prakteknya sangat kecil peluang kita untuk mengonsumsi susu segar definisi SNI tersebut di atas. Umumnya susu yang dikonsumsi masyarakat adalah susu olahan baik dalam bentuk cair (susu pasteurisasi, susu UHT) maupun susu bubuk.

Susu pasteurisasi merupakan susu yang diberi perlakuan panas sekitar 63-72 derjat Celcius selama 15 detik yang bertujuan untuk membunuh bakteri patogen. Susu pasteurisasi harus disimpan pada suhu rendah (5-6 derjat Celcius) dan memiliki umur simpan hanya sekitar 14 hari.

Susu bubuk berasal susu segar baik dengan atau tanpa rekombinasi dengan zat lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan. Umumnya pengeringan dilakukan dengan menggunakan spray dryer atau roller drayer. Umur simpan susu bubuk maksimal adalah 2 tahun dengan penanganan yang baik dan benar. Susu bubuk dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu susu bubuk berlemak (full cream milk prowder), susu bubuk rendah lemak (partly skim milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk prowder)
(SNI 01-2970-1999).

Susu UHT (ultra high temperature) merupakan susu yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135-145 derjat Celcius) selama 2-5 detik (Amanatidis, 2002). Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme (baik pembusuk maupun patogen) dan spora. Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segarnya.

Proses Susu UHT

Susu cair segar UHT dibuat dari susu cair segar yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang sangat singkat untuk membunuh seluruh mikroba, sehingga memiliki mutu yang sangat baik.
Secara kesuluruhan faktor utama penentu mutu susu UHT adalah bahan baku, proses pengolahan dan pengemasannya. Bahan baku susu UHT cair segar adalah
susu segar yang memiliki mutu tinggi terutama dalam komposisi gizi. Hal ini didukung oleh perlakuan pra panen hingga pasca panen yang terintegrasi. Pakan sapi harus diatur agar bermutu baik dan mengandung zat-zat gizi yang memadai, bebas dari antibiotika dan bahan-bahan toksis lainnya. Dengan demikian, sapi perah akan menghasilkan susu dengan komposisi gizi yang baik. Mutu susu segar juga harus didukung oleh cara pemerahan yang benar termasuk di dalamnya adalah pencegahan kontaminasi fisik dan mikrobiologis dengan sanitasi alat pemerah dan sanitasi pekerja. Susu segar yang baru diperah harus diberli perlakuan dingin termasuk transportasi susu menuju pabrik.

Pengolahan di pabrik untuk mengkonversi susu segar menjadi susu UHT juga harus dilakukan dengan sanitasi yang maksimum yaitu dengan menggunakan alat-alat yang steril dan meminimumkan kontak dengan tangan. Seluruh
proses dilakukan secara aseptik.

Susu UHT dikemas secara higienis dengan menggunakan kemasan aseptik multilapis berteknologi canggih, Kemasan multilapis ini kedap udara sehingga bakteri pun tak dapat masuk ke dalamnya. Karena bebas bakteri
perusak minuman, maka susu UHT pun tetap segar dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu kemasan multilapis susu UHT ini juga kedap cahaya sehingga cahaya ultra violet tak akan mampu menembusnya dengan terlindungnya dari sinar ultra violet maka kesegaran susu UHT pun akan tetap terjaga. Setiap kemasan aseptik multilapis susu UHT disterilisasi satu per satu secara otomatis sebelum diisi dengan susu. Proses tersebut secara otomatis dilakukan hampir tanpa adanya campur tangan manusia sehingga menjamin produk yang sangat higienis dan memenuhi standar kesehatan internasional.

Dengan demikian teknologi UHT dan kemasan aseptic multilapis menjamin susu UHT bebas bakteri dan tahan lama tidak membutuhkan bahan pengawet dan tak perlu disimpan di lemari pendingin hingga 10 bulan setelah diproduksi.

Keunggulan Susu UHT

Kelebihan-kelebihan susu UHT adalah simpannya yang sangat panjang pada susuh kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak perlu dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari umur simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba
(patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi, relatif tidak berubah.

Proses pengolahan susu cair dengan teknik sterilisasi atau pengolahan menjadi susu bubuk sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan mutu gizinya terutama vitamin dan protein. Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT sangat sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan protein. Di lain pihak kerusakan protein sebesar 30 persen terjadi pada pengolahan susu cair
menjadi susu bubuk.

Kerusakan protein pada pengolahan susu dapat berupa terbentuknya pigmen coklat (melanoidin) akibat reaksi Mallard. Reaksi Mallard adalah reaksi pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu
akibat proses pemanasan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama seperti pada proses pembuatan susu bubuk. Reaksi pencoklatan tersebut menyebabkan menurunnya daya cerna protein.

Proses pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino yaitu perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Tubuh manusia umumnya hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L. Dengan demikian proses rasemisasi sangat merugikan dari sudut pandang ketersediaan biologis asam-asam amino di dalam tubuh.

Reaksi pencoklatan (Mallard) dan rasemisasi asam amino telah berdampak kepada menurunnya ketersedian lisin pada produk-produk olahan susu. Penurunan ketersediaan lisin pada susu UHT relatif kecil yaitu hanya mencapai 0-2 persen. Pada susu bubuk penurunannya dapat mencapai 5-10 persen.

Tip Penggunaan Susu UHT :

1. Apabila kemasan susu UHT telah dibuka, maka susu tersebut harus disimpan
pada refrigerator.

2. Susu UHT harus dihindarkan dari penyimpanan pada suhu tinggi (di atas 50
derajat Celcius) karena dapat terjadi gelasi yaitu pembentukan gel
akibat kerusakan protein.

3. Kerusakan susu UHT sangat mudah dideteksi secara visual, ciri utama yang
umum terjadi adalah kemasan menggembung. Gembungnya kemasan terjadi
akibat kebocoran kemasan yang memungkinkan mikroba-mikroba pembusuk
tumbuh dan memfermentasi susu. Fermentasi susu oleh mikroba pembusuk
menghasilkan gas CO2 yang menyebabkan gembung.

4. Kerusakan juga ditandai oleh timbulnya bau dan rasa yang masam. Selain
menghasilkan gas, aktivitas fermentasi oleh mikroba pembusuk juga
menghasilkan alkohol dan asam-asam organik yang menyebabkan susu menjadi
berflavor dan beraroma masam.

5. Hindari mengkonsumsi susu UHT yang telah mengental. Fermentasi susu oleh
bakteri pembusuk juga pembusuk juga menyebabkan koagulasi dan pemecahan
protein akibat penurunan pH oleh asam-asam organik. Koagulasi dan
pemecahan protein inilah yang menyebabkan tekstur susu rusak yaitu
menjadi pecah dan agak kental.

Oleh : Prof Dr Ir Made Astawan MS

Sumber: WASPADA Online

Baca Selengkapnya (Read More)......

Minggu, Februari 14, 2010

Prinsip Pemberian Makanan Pendamping ASI (3)

Rangkaian prinsip pemberian makanan pendamping ASI bagian ketiga.

Berikan makanan yang kaya gizi sesuai piramida makanan

Antara usia 6 – 24 bulan, anak tumbuh dengan cepat dan kebutuhan energi, vitamin dan mineralnya meningkat, namun ukuran perut mereka masih kecil (30ml/kg berat badan – seukuran 1 buah cangkir), sehingga mereka membutuhkan makanan yang kaya gizi dan mampu memenuhi kebutuhan nutrisi mereka walaupun dalam porsi yang kecil.

Saat ini yang dipakai adalah konsep makanan sehat seimbang seperti yang dituangkan dalam piramida makanan. Segitiga makanan ini akan membantu kita cara memfokuskan dan menseleksi makanan. Porsi terbesar makanan kita adalah yang tertera di paling bawah piramida makanan, yaitu beras dan sereal sedangkan makanan yang kebutuhannya sangat sedikit adalah yang di puncak piramida yaitu lemak dan gula.

Piramida Makanan Untuk Anak-Anak



KETERANGAN MENGENAI KONSPEP PIRAMIDA MAKANAN UTK ANAK-ANAK

BERAS & SEREAL

Variasikan konsumsi beras dan sereal, misalnya: beras putih, beras merah, havermut, maizena, roti, pasta, mie, dan cereal.

· 6 bln-1 thn: 1 porsi kecil
· 2-6 thn: 6 porsi/hari

1 porsi kecil sama dengan ¼ genggaman ibu; roti ½ potong
1 porsi sama dengan 1 iris roti; ½ cangkir nasi/pasta; 1 cangkir cereal

SAYURAN

Perbanyak sayuran berwarna hijau gelap (spt brokoli, bayam, dll), oranye (wortel, ubi kuning), dan lainnya. Perkenalkan sayuran sedini mungkin pada anak. Sajikan secara terpisah dari bahan makanan lain. Jika anak tdk suka sayur, jangan menyerah, “sembunyikan” sayuran dalam resep camilan atau makanan kesukaan lainnya.

· 6 bln-1 thn: 1 porsi kecil
· 2-6 thn: 3-5 porsi/hari

1 porsi kecil sama dengan 1/3 genggaman ibu atau 1/3 cangkir sayuran mentah
1 porsi sama dengan ½ cangkir potongan sayuran

BUAH-BUAHAN

Variasikan buah yang diberikan. Pilih buah yang segar daripada buah kalengan atau buah kering atau jus buah. Batasi konsumsi jus buah.

· 6 bln-1 thn: 1 porsi kecil
· 2-6 thn: 2-3 porsi/hari

1 porsi kecil sama dengan 1/3 cangkir buah mentah
1 porsi sama dengan 1 iris buah, ¾ gelas jus buah

SUSU, YOGURT & KEJU

Susu sapi (segar/UHT/bubuk) tidak boleh diberikan untuk anak di bawah 1 thn. Keju cheddar & yogurt utk bayi bisa diperkenalkan di usia 8-9 bln. Yogurt biasa boleh diperkenalkan di usia 10-12 bln. Pilih yang tanpa rasa (plain) Utk anak usia 1-2 thn, berikan susu segar/UHT atau susu bubuk full cream. Tidak perlu memberikan susu formula lanjutan bagi anak usia 1 thn lebih. Susu dan produk susu olahan rendah lemak diberikan stlh anak berusia 2 thn.

· 8 bln- 9 bln: 2 porsi kecil
· 9-12 bln: 2 porsi kecil
· 1-2 thn: 2 porsi
· 2-6 thn: 2-3 porsi/hari

Utk anak 6-9 bln
1 porsi kecil = keju ½ ukuran kartu domino; Yogurt 25 ml
Utk anak 9-12 bln
1 porsi kecil = keju 1 ukuran kartu domino, yogurt 50 ml
1 porsi sama dengan 1 gelas susu, 1 gelas yogurt, 1 lembar keju cheddar

DAGING, AYAM, IKAN, TELUR & KACANG-KACANGAN

Pilih daging tanpa kulit dan lemak. Memasak dengan mengukus, memanggang, dan membakar lebih baik dari pada menggoreng. Variasikan sumber protein, perbanyak ikan, kacang-kacangan & biji-bijian

6-9 bln: 1-2 sdm/hari (telur 1-2x seminggu);
9-12 bln: 2-3 sdm/hari (telur 2x seminggu)
1-2 thn: 3-4 sdm/hari
2-6 thn: 2-3 porsi/hari

Utk anak 2-6 thn: 1 porsi sama dengan 1 ons dg sapi/ayam/ikan; 1 butir telur; 2 sm selai kacang; ¼ cangkir kacang hijau/polong/buncis; 1 ptg sedang tempe atau tahu

LEMAK, MINYAK, MAKANAN YANG MANIS

Batasi makanan gorengan, dan penggunaan santan. Batasi camilan & minuman kemasan karena kandungan nutrisi dan seratnya rendah tapi berkalori sangat tinggi. Berikan camilan sehat yang kaya berupa buah, sayuran, yogurt, susu dan makanan rumahan.

sesedikit mungkin

Sumber:
http://www.usda.gov/cnpp/KidsPyra
http://kidshealth.org

Jangan lupa mampir ke http://resepmasakanhadaya.blogspot.com/ untuk melihat berbagai macam resep MPASI ^^




Baca Selengkapnya (Read More)......

Jumat, Februari 12, 2010

Prinsip Pemberian Makanan Pendamping ASI (2)

Lanjutkan Pemberian ASI Selama 2 Tahun atau Lebih, Sesering dan Selama Anda dan Bayi Anda Menginginkannya

Lanjutkan Pemberian ASI Selama 2 Tahun atau Lebih, Sesering dan Selama Anda dan Bayi Anda Menginginkannya

Meneruskan pemberian ASI sangat penting bagi nutrisi dan pertumbuhan anak setelah 6 bulan pertama. ASI tetap menjadi makanan ideal untuk bayi dan balita berusia lebih dari 6 bulan karena alasan-alasan berikut ini :

ASI adalah makanan berkualitas tinggi

ASI adalah makanan bernutrisi dan berenergi tinggi, yang mudah dicerna. ASI memiliki kandungan yang dapat membantu penyerapan nutrisi.

Secara rata-rata, bayi berusia 6-8 bulan yang diberikan ASI mendapatkan 70% energinya dari ASI, jumlah ini berkurang menjadi sekitar 55% pada usia 9-11 bulan, dan 40% pada usia 12-23 bulan.

ASI juga merupakan penyedia utama protein, mineral, asam lemak esensial dan faktor-faktor pelindung lainnya. ASI menyediakan lebih banyak kalori dan nutrisi per ml daripada makanan lainnya, dan jauh lebih lembut daripada sereal, beras bayi ataupun puree (makanan yang dihaluskan-red) sayuran yang biasanya menjadi makanan padat pertama untuk bayi-bayi yang lebih besar.

Bila perut bayi diisi dengan makanan yang kandungan nutrisinya buruk, makan asupan ASI-nya juga akan berkurang dan secara keseluruhan cara makan dan kesehatannya akan menurun. Kontribusi yang diberikan ASI sering kali terlupakan karena terlalu tingginya antusiasme untuk mulai memberikan makanan tambahan. Tantangannya adalah bagaimana cara memberikan makanan lain yang dapat menjadi tambahan bagi nutrisi yang sudah diberikan oleh ASI, bukan menggantikannya.

ASI tetap kaya nutrisi saat anak > 1 thn

Penelitian yang dilakukan pakar-pakar laktasi di WHO mengungkapkan bahwa pemberian ASI di saat anak > 1 tahun tetap memberikan nutrisi yang tidak ternilai harganya.
Pemberian ASI pada batita memberikan:

31% kebutuhan energi anak;
38% kebutuhan protein anak;
45% kebutuhan Vitamin A anak;
95% kebutuhan Vitamin C anak;
Sumber: WHO/CDR/93.

Bahkan menurut penelitian Goldman, dkk, kandungan zat imun dalam ASI makin tinggi seiring dengan bertambahnya usia anak.

Bayi yang masih mendapatkan ASI tidak akan pernah kelaparan

ASI yang diberikan kapan saja saat bayi menginginkannya (on demand) akan mengatur asupan makanan pada bayi; bila mereka lapar mereka akan mencari puting susu, menangis atau minta untuk diberi ASI. Bila pemberian ASI tanpa jadwal ini dilanjutkan bersamaan dengan pemberian makanan tambahan, bayi masih dapat mengatur berapa banyaknya asupan makanan mereka. Bila mereka tidak menyukai satu makanan tertentu, atau bila makanan yang diberikan tidak cukup, mereka bisa lebih banyak minum ASI.

ASI meyediakan faktor pelindung

ASI memiliki ± 50 faktor kekebalan yang telah diketahui, dan mungkin masih banyak lagi yang belum diketahui. Faktor anti infeksi yang terdapat di dalam ASI menyediakan perlindungan terhadap penyakit dan bila penyakit itu terjadi pemberian ASI dapat membuat penyakit tersebut menjadi tidak terlalu parah. Perlindungan ini terus berlangsung setelah 6 bulan karena memberikan makanan dan minuman lain akan membuat bayi terpapar pada berbagai jenis infeksi dan bakteri patogen yang terdapat di dalam makanan pada saat sistem kekebalan tubuh si anak sendiri masih dalam proses pematangan.
Perlindungan yang sama masih tetap tersedia meskipun pemberian ASI berkurang hingga beberapa kali saja dalam sehari.

ASI membantu kesembuhan dari suatu penyakit

Bayi yang sedang sakit seringkali menolak untuk makan, akan tetapi biasanya mereka mau disusui ASI. Para ibu dapat memberikan respon terhadap serangan penyakit dengan memberikan ASI yang bersifat menenangkan, menyembuhkan dan penuh nutrisi. Faktor pertumbuhan dalam ASI mempercepat perbaikan pada organ usus setelah diare. (Bila bayi terlalu sakit mereka biasanya tidak mau menghisap ASI maka mereka perlu dibawa ke pusat kesehatan sesegera mungkin).

Pertalian khusus antara ibu dan anak terus berlangsung

ASI dapat membangun hubungan emosi antara ibu dan bayi yang terasa sangat nikmat dan berharga di atas usia 6 bulan.

Sumber:
· Why Delay Solid Foods?
· When Will My Baby Be Ready For Solid Foods?
· WHO. 2004. ”Infant Feeding in emergencies : A guide for mothers”
· ”Extended Breastfeeding Fact Sheet” by Kelly Bonyata, BS, IBCLC.
· Jack Newman, MD, FRCPC. ”Breastfeed a Toddler—Why on Earth?”

Postingan Terkait:
Prinsip Pemberian Makanan Pendamping ASI (1)




Baca Selengkapnya (Read More)......